headerphoto

CERITA TENTANG PUSAKA

Bookmark and Share

Aristia Kusuma - A'90


Setelah lulus S2 awal 2008 dengan mengambil Urban Design di Universitas Team RehabilitasiIndonesia, saya memang mulai tertarik dengan dunia heritage. Hal ini di mulai sejak penelitian untuk tesis ku tentang Kotagede Pasca Gempa. Kotagede merupakan hunian tradisional dengan umur bangunan kurang lebih 400 tahunan. Pola pengembngan kota yang sangat spesifik dan kondisi nya pasca gempa yang memprihatinkan membuat saya tersentuh akan sebuah upaya pelestarian. Dari situ saya mengenal berbagai teman2 akademisi, organisasi, pakar yang berkecimpung di Bidang Heritage, baik nasional dan teman2 internasional. Dan tepatnya di bulan Nopember 2009 saya diajak secara profesional untuk mendukung BPPI/IHT ini.


Disana saya menjadi koordinator di sekretariat, dan bukan hanya itu tetapi juga mengatur berbagai agenda program-program BPPI dengan para pakar keahlian yang ada di BPPI dan para koordinator para program, tentunya agar berbagai program BPPI dapat berjalan sesuai relnya dan selesai tepat waktu. Untuk itu pertanggungjawaban dengan para pendonor yang sebagian besar dari dunia internasional merupakan tanggung jawabku bersma tim untuk memonitor bahkan terlibat langsung dalam berbagai laporan.


Rehabilitasi Jam GadangApa itu BPPI ? Inilah ceritanya. BPPI kepanjangannya adalah Badan Pelestarian Pusaka Indonesia atau bahasa internasionalnya : Indonesian Heritage Trust. BPPI/IHT merupakan anggota organisasi internasional INTO-International National Trust Organization yang berpusat di London. Istilah kerennya, BPPI adalah NGO yang bergerak di bidang Heritage : tangible dan intangible heritage. Kalau bahasa Indonesia nya PUSAKA yang terdiri dari Pusaka Alam, Pusaka Budaya dan Pusaka Saujana.
Jadi, BPPI adalah sebuah organisasi nirlaba berbentuk perkumpulan yang didirikan oleh Jaringan Pelestarian Pusaka Indonesia (JPPI) yang terdiri dari berbagai organisasi pelestarian daerah, akademisi dan individu praktisi serta pemerhati pelestarian pada 17 Agustus 2004 di Jakarta. Pembentukannya dihadiri dan didukung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI.


Visi BPPI adalah "Mengawal Kelestarian Pusaka Indonesia" yang dilaksanakan agar terwujud rekam jejak sejarah, budaya dan peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat. Untuk mewujudkan visi tersebut, BPPI memiliki 3 misi utama yaitu (i) Menyampaikan masukan untuk pengembangan kebijakan, strategi, program, panduan dan mekanisme pelestarian; (ii) Menyelenggarakan pelestarian dan membantu pengembangan kapasitas pelestarian pusaka serta membangun gerakan pelestarian bersama pemerintah, komunitas, dunia usaha dan berbagai lembaga lainnya; (iii) Mengembangkan sistem pendanaan pelestarian melalui kerjasama nasional dan internasional.


Dengan memanfaatkan nilai - nilai luhur pusaka dan didukung oleh gerakan seluruh lapisan masyarakat, maka pengembangan pusaka alam dan seni-budaya dapat didorong dan direvitalisasi untuk membangun kerangka kehidupan yang positif dan berkelanjutan bagi pelestarian pusaka, perbaikan kehidupan saat ini serta peletakan pondasi yang kuat untuk masa depan.



Empat program utama BPPI untuk 3 tahun ini diantaranya adalah : (i) Menyiapkan masukan untuk kebijakan, strategi, program, panduan dan mekanisme pelestarian pusaka di Indonesia. (ii) Membangun kapasitas pelestarian melalui pendidikan dan pengembangan gerakan pelestarian, bekerjasama dengan pemerintah, masyarakat, sector swasta dan beragam institusi lainnya. (iii) Mengembangkan sistem pendanaan pelestarian. (iv) Melsayakan tanggapan cepat pada situasi darurat ketika terjadi kerusakan pasca bencana alam, konflik sosial, ketidaktepatan manajemen, dll.


Dalam program-program rehabilitasi, mengingat background-ku juga arsitek maka saya ditempatkan sebagai wakil koordinator dalam tim rehabilitasi Jam Gadang di Bukittinggi 2009-2010, kapel St. Leo dan mesjid Lubuk Bareh di Padang 2010-2011.


Sebagai wawasan tentang ragam kegiatan, BPPI telah melakukan uji coba program percontohan Pendidikan Pusaka untuk Anak dan Guru di D.I. Yogyakarta pada 2008-2010 yang akan direplikasikan ke daerah-daerah lainnya. Juga bersama-sama mitra lokal dan internasional bahu membahu melakukan Penyelamatan Pusaka Pasca Bencana antara lain revitalisasi desa tradisional Hiliamaetaniha pasca tsunami 2004 di Pulau Nias, revitalisasi Kotagede pasca gempa bumi 2006 di DIY, rehabilitasi Mesjid tua Rao-Rao di Tanah Datar dan Jam Gadang di Bukittinggi pasca gempa bumi 2007 di Sumatera Barat, serta saat ini sedang berlangsung rehabilitasi Kapel St. Leo di Padang dan Mesjid Lubuk Bareh di Padang Pariaman pasca gempa bumi 2009 dan pendataan kerusakan pusaka pasca letusan Merapi 2010. Ada juga kegiatan Pelatihan Penguatan Kapasitas Pemda dalam Pengelolaan Kota Pusaka di Sawahlunto, Denpasar dan akan dikembangkan ke wilayah timur Indonesia sebagai bentuk pendampingan BPPI kepada anggota Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI). Aktivitas pelestarian lainnya seperti : Diskusi Pelestarian, Temu Pusaka, pembuatan buku, manual dan lainnya.


BPPI merupakan organisasi terbuka. Saat ini anggota BPPI tersebar di seluruh nusantara dan dunia yang terdiri dari individu praktisi dan pemerhati pelestarian. Ruang lingkup program-program BPPI yang sangat luas menjadikan BPPI kaya dengan pakar dari berbagai disiplin ilmu seperti arsitektur, perencanaan kota/daerah, lingkungan hidup, arkeologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, hukum, sejarah, sastra, musik, teater dan lain sebagainya.


Sampai dengan saat ini BPPI bermitra dengan lebih dari 50 mitra lokal yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia serta mitra internasional dari Australia, Belanda, Lebanon dll. Pada tahun lalu sempat juga saya di-amanat-i menjadi ketua pelaksana pada program temu pusaka Indonesia di Bandung. Acara ini melibatkan seluruh organisasi, institusi pelestari dari seluruh Indonesia dan luar negeri.


Tentang keorganisasian, ada Dewan Pimpinan, Dewan Pakar, dan Sekretariat di struktur organisasi BPPI. Kebetulan saya menjabat sebagai Koordinator Sekretariat yang ber-kantor di Griya BPPI di Veteran - Jakarta. Adalah cukup menarik bagi saya sebagai alumni Fakultas Teknik yang sekarang menekuni dunia Pusaka seperti di BPPI. Walau NGO biasanya tidak terlalu akrab dengan dunia teknik, maka justru dalam program-programnya BPPI didukung oleh mayoritas (80%) orang teknik : arsitektur, perkotaan, sipil, lingkungan, landscape, arkeologi dsb. Sebagai contoh dalam melaksanakan program rehabilitasi bangunan heritage pasca gempa, tentu penanganannya adalah penguatan struktur dan arsitektur. Dan dibutuhkan keahlian untuk hal tersebut. Asiknya disini adalah teman-teman teknik ini memiliki visi yang sama terhadap pelestarian. Mereka adalah arsitek, sipil, lingkungan, perkotaan yang semua peduli akan pelestarian.


Dalam perjalanan di dunia heritage ini, saya masih belajar banyak. Untuk itu saya musti rajin mengikuti berbagai pelatihan di dalam dan luar negeri terutama yang berkaitan dengan heritage management, heritage lingkungan, rehabilitation-reconstruction in heritage, dan lainnya. Hal ini sangat bermanfaat, apalagi kita dapat membuka networking dengan teman - teman di seluruh Indonesia dari barat sampai timur dan teman dari dunia international untuk pelestarian Indonesia dan dunia.


Perlu disampaikan bahwa penggunaan kata PUSAKA sebagai pengejawantahan dari kata HERITAGE bukan berarti sesuatu bagian dari barang-barang mistis. Perlu diluruskan, bahwa pusaka itu terdiri dari aset heritage kita di Indonesia : pusaka alam, pusaka budaya dan pusaka saujana.


Mengapa saya tertarik dengan urusan heritage ? Selain memiliki brand sebagai alumni teknik, pada dasarnya saya memang suka dengan dunia heritage dan pekerjaan sosial. Dan kebetulan pula disini ada kedekatan pdengan disiplin ilmu teknik . Sehingga bagi saya tidak ada pekerjaan yang memiliki kesulitan yang begitu berarti, karena kita menyukainya, maka secara otomatis, kita akan berjuang agar setiap pekerjaan selesai dan dapat bermanfaat untuk masyarakat yang membutuhkannya. Contohnya adalah pada saat pekerjaan rehabilitasi jam gadang selesai dan siap diresmikan untuk digunakan kembali, saya dan tim membuatkan papan-papan informasi tentang apa itu rehabilitasi, proses rehabilitasi yang kami lakukan pada jam gadang yang ternyata melibatkan banyak unsur keahlian, pengupasan sejarahnya dan tentu kaitannya dengan bagaimana selanjutnya kita melestarikan jam gadang. Masyarakat dengan berbagai tingkat pendidikan membaca semua papan informasi dengan seksama yang tersebar di taman kota tepat Jam Gadang berdiri di tengahnya. Bukan hanya bangga, tapi rasa haru menyelimuti perasaan kami karena semua informasi dan pekerjaan kami terasa berarti dan tidak sia-sia, berguna untuk mereka dan masa depan generasi mereka.



Rehabilitasi Kampung NiasSebagai catatan akhir, bidang heritage ini menurut saya sudah seharusnya-lah menjadi bagian dari pemikiran, keahlian para teman-teman teknik atau siapapun juga, apapun background-nya untuk peduli akan pelestarian. Mengapa ? Karena selain tuntutan untuk kepedulian kita akan issue "Global Warming" dan arah pemikiran kita pada "Go Green" (baik pada setiap desain teknik atau prilsaya apapun), tentunya ‘pusaka/heritage' adalah merupakan aset bangsa yang bernilai untuk masa depan anak cucu kita. Untuk itu sudah saatnya kita mengacu kepada "Kearifan Lokal". [] Aristia Kusuma.


 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Karir Teknik" Lainnya